Keanekaragaman hayati terdiri dari dua kata keanekaragaman dan hayati.
Kata “keanekaragaman” menggambarkan keadaan bermacam macam suatu benda, yang dapat terjadi akibat adanya perbedaan
dalam hal ukuran, bentuk, tekstur
ataupun jumlah, sedangkan kata hayati menunjukkan
sesuatu yang hidup. Keanekaragaman hayati sering disebut “biodiversitas” yang menunjukkan keanekaragaman atau
kebeeragaman dari makhluk hidup akibat adanya perbedaan
warna,ukuran,bentuk,jumlah,tekstur.penampilan,dan sifat-sifat yang lain.Berikut
ini adalah beberapa definisi keanekaragaman hayati :
1. Keanekaragaman Hayati adalah keanekaragaman diantara mahluk hidup dari semua sumber termasuk diantaranya daratan, lautan
dan ekosistem akuatik lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan
bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman didalam spesies, antar
species dan ekosistem (Konvensi PBB Tentang Keanekaragaman Hayati,1992)
2. Keanekaragaman Hayati, yang selanjutnya disebut Kehati adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi dan
perananperanan ekologisnya, yang meliputi keanekaragaman ekosistem,
keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman genetic (Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No 29 tahun 2009; Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No 3 tahun 2012);
3. Keanekaragaman hayati
ialah fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan
oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada
spesies lain termasuk manusia (McAllister 1998);
TINGKATAN
KEANEKARAGAMAN HAYATI [ Berdasarkan definisi
keanekaragaman hayati yang diuraikan diatas, ada tiga pendekatan dalam membaca
keanekaragaman hayati, yaitu:
A. Keanekaragaman gen
Keanekaragaman gen adalah keanekaan individu di dalam suatu spesies.
Keanekaan ini disebabkan oleh perbedaan genetis antar individu.
Gen
adalah faktor pembawa sifat yang dimiliki oleh setiap organisme serta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Sumber daya genetik atau plasma
nutfah adalah bahan tanaman, hewan, jasad renik, yang
mempunyai kemampuan untuk menurunkan sifat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sumber daya genetik ini
mempunyai nilai baik yang nyata, yaitu telah
diwujudkan dalam pemanfaatan, maupun yang masih pada taraf
potensi yaitu yang belum diketahui manfaatnya. Pada tanaman, sumber daya genetik terdapat dalam biji, jaringan, bagian
lain tanaman, serta tanaman muda dan dewasa.
Pada hewan atau ternak sumber daya genetic
terdapat
dalam jaringan, bagian-bagian hewan lainnya, semen, telur, embrio, hewan hidup,
baik yang muda maupun yang dewasa. Sumber daya genetic dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan pemuliaan dalam mengembangkan varietas baru tanaman atau
menghasilkan rumpun baru ternak. Sumber daya genetik dapat terkandung di dalam
varietas tradisional
dan
varietas mutakhir atau kerabat liarnya . Bahan genetik ini merupakan bahan
mentah yang sangat penting bagi para pemulia tanaman, hewan dan ikan. Bahan
genetik ini merupakan bahan cadangan bagi makhluk untuk penyesuaian genetik
dalam mengatasi perubahan kondisi lingkungan yang membahayakan dan perubahan
kondisi ekosistem yang tidak
mendukung
kehidupan makhluk. Dua individu yang memiliki struktur dan urutan gen yang
sama,
belum
tentu memiliki bentuk yang sama pula karena faktor lingkungan mempengaruhi
penampakan (fenotipe) atau bentuk. _ Pengaruh keadaan lingkungan terhadap sifat
atau ciri setiap makhluk hidup adalah merupakan sunnatullah yang perlu kita
tafakuri sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an :
Artinya:
“Dan
di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur,
tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang,
disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu
atas sebagaian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)
bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’[13] : 4)
Artinya:
“Dan
Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,
pohon kurma, tetumbuhan yang beraneka ragam buahnya, zaitun dan delima yang
serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya
(yang beraneka ragam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan.” (QS.al-An’aam [6]: 141).
Dari
ayat di atas manusia dituntut mencari jawaban mengapa Allah melebihkan sebagian
tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lainnya? Untuk membuktikan kebenaran
firman Allah itu, manusia yang mempunyai kemampuan berfikir berdasarkan akal
dan ilmu pengetahuan yang
dimilikinya,
baru dapat menemukan bukti-bukti adanya keanekaragaman gen dan pengaruh
keadaaan lingkungan terhadap sifat dan ciri yang dimiliki oleh setiap individu
makhluk hidup.
Banyak spesies tanaman di Indonesia memiliki keanekaragaman sumber
daya genetik tinggi dan persebarannya meliputi berbagai daerah. Setiap daerah
di Indonesia memiliki beberapa sumber daya genetik yang khas, yang sering
berbeda dengan yang ada di daerah lain. Kenyataan ini
merupakan suatu potensi yang bernilai tinggi bagi daerah untuk memanfaatkan
fenomena ini. Sebagian dari sumber daya genetic tersebut ada yang telah
dikembangkan sehingga mempunyai nilai ekonomi tinggi, tetapi banyak pula di
antaranya yang belum dimanfaatkan sama sekali, sehingga mengalami ancaman
kepunahan. Contoh plasma nutfah tanaman yang pemanfaatannya telah dikembangkan
adalah salak Pondoh (Yogyakarta), salak Bali (Bali), nenas Bogor (Bogor), duren
Petruk (Semarang), mangga Gedong Gincu (Cirebon), beras Rojolele (Delanggu),
beras Cianjur (Cianjur), bareh Solok (Solok), dan sebagainya. Pada ternak,
beberapa spesies ternak memiliki keanekaragaman sumber daya genetic cukup
tinggi, sebagian besar telah dikembangkan pemanfaantannya dan memiliki nilai
ekonomi adalah sapi Bali (Bali), ayam
Kedu (Kedu), domba Ekor Tipis (Garut), itik Alabio (Alabio,
Kalimantan Selatan), dan sebagainya. Pemanfaatan plasma nutfah ikan dapat
dilakukan melalui upaya budi daya dan penangkaran. Ikan emas dan ikan gurame
telah dibudidayakan dan dimuliakan menjadi beberapa varietas yang bernilai ekonomi
tinggi.
B. Keanekaragaman jenis merupakan keanekaan
jenis organisme yang menempati suatu ekosistem, di darat maupun di perairan, dimana
masingmasing organisme
mempunyai ciri yang berbeda satu dengan yang lain Spesies atau jenis memiliki pengertian, individu yang mempunyai
persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan
sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertile
(subur) untuk melanjutkan generasinya. Spesies juga dapat didefinisikan secara
biologis dan morfologis. Secara biologis, spesies adalah Sekelompok individu
yang berpotensi untuk ber-reproduksi diantara mereka, dan tidak mampu
ber-reproduksi dengan kelompok lain. Sedangkan secara morfologis, spesies
adalah sekelompok individu yang mempunyai karakter morfologi,
fisiologi atau biokimia berbeda dengan kelompok lain.Spesies dapat
dikelompokkan menurut tempat hidup dan pengelolaannya, spesies dapat
dikelompokkan menjadi spesies liar dan
spesies budidaya. Spesies liar yang belum dibudidayakan merupakan kelompok
makhluk hidup yang terdiri atas populasi yang berada di habitat alami yang
sesuai. Habitat ini tersebar di kawasan dengan batas geografi tertentu,
contohnya adalah sagu yang alaminya tersebar di daerah Maluku dan Papua, dan
lai (Durio kutajensis) mempunyai sebaran alami di Kalimantan. Contoh untuk
spesies hewan adalah Badak cula dua yang hanya terdapat di Sumatra, anoa hanya
di Sulawesi, dan kanguru hanya di Papua. Spesies tanaman maupun hewan budi daya
tidak mempunyai batas alami dan tidak memiliki kekhasan dalam penyebarannya. Spesies
juga dikelompokkan menurut persebaran ekologi atau habitatnya
(daratan/terestrial atau perairan/akuatik). Kelompok-kelompok tersebut dapat
disubkelompokkan lagi. Spesies terestrial terdiri atas spesies dataran rendah
atau dataran tinggi, sedangkan spesies akuatik dapat
dikelompokkan lagi menjadi spesies air tawar, spesies lautan, dan
spesies payau. Berdasarkan fungsinya, spesies budi daya dikelompokkan menjadi pangan,
papan, obat-obatan dan rempah, pakan, dan juga jasa. Spesies budidaya
dikelompokkan berdasarkan sektor pengelolaanya, yaitu pertanian (termasuk
perkebunan, hortikultura, peternakan), kehutanan, kelautan dan perikanan,
kesehatan, dan industri.
C. Keanekaragaman ekosistem
Keanekaragaman ekosistem adalah keanekaragaman yang mencakup bentuk dan susunan bentang alam, daratan maupun perairan, di
mana makhluk atau organisme hidup
(tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) berinteraksi dan membentuk keterkaitan dengan lingkungan
fisiknya. Menurut UU No.5 Tahun 1990, Ekosistem
adalah sistem hubungan timbale balik antara unsur dalam alam, baik hayati
(komponen biotik) maupun non-hayati (komponen abiotik) yang saling tergantung
dan pengaruh mempengaruhi. Komponen biotik meliputi berbagai jenis makhluk
hidup mulai yang bersel satu (uni seluler) sampai makhluk hidup bersel banyak
(multi seluler) yang dapat dilihat langsung. Komponen abiotik
meliputi iklim, cahaya, batuan, air, tanah, dan kelembaban. Ini semua disebut factor
fisik. Selain faktor fisik, ada faktor kimia, seperti salinitas (kadar
garam),tingkat keasaman, dan kandungan mineral. Perbedaan kondisi komponen abiotik
(tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan jenis makhluk hidup
(biotik) yang dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda
Kedua komponen biotik dan abiotik ini satu deketergantungan sehingga perbedaan
komponen biotik dan abiotik
membentuk lingkungan (ekosistem) yang berbeda pula. Munculnya keanekaragaman
ekosistem disebabkan adanya variasi keberadaan komponen biotik dan abiotik
dalam ekosistem itu sendiri.
Hal ini memberikan pengetahuan pada kita yang dikenal dengan
keanekaragaman ekosistem yang terdapat dalam alam raya ini, dapat kita pelajari
dan amati dengan kemampuan pengetahuan
yang kita miliki. Kata “bumi berlain-lainan macamnya” dapat
ditafsirkan bahwa komponen lingkungan abiotik yang meliputi faktor fisik
(seperti air, tanah, udara, cahaya, suhu, kelembaban, dan lain-lainnya) serta
faktor kimia (seperti keasaman, mineral, dan salinitas) yang terdapat di alam
ini berbedabeda. Demikian pula komponen lingkungan biotik yang merupakan
penghuni di bumi ini meliputi tumbuhan, hewan, manusia dan mikroorganisme
beanekaragam jenisnya. Kedua komponen abiotik dengan biotik terjalin suatu
proses interaksi antara satu dengan lainnya yang tidak dapat dipisahkan maka
disebut ekosistem. Proses interaksi antar komponen dalam ekosistem meliputi
proses pengambilan dan perpindahan energy (energitika), daur materi dan
produktivitas, yang semua ini secara kualitas dan kuantitasnya sangat
dipengaruhi oleh tingkat keberadaan komponen biotik dan abiotik, sehingga
melahirkan keanekaragaman ekosistem. Ketiga tingkat
keanekaragaman hayati tersebut saling memiliki
keterkaitan,dimana dapat dilihat pada kawasan yang mempunyai
keanekaan ekosistem yang tinggi, biasanya juga memiliki keanekaragaman spesies
yang tinggi dengan variasi genetis yang tinggi pula. Ada beberapa istilah yang perlu
dipahami mengenai keanekaragaman hayati, yaitu:
- Pusat
Asal-usul: adalah wilayah geografis tempat suatu takson berasal atau pertama
kali berkembang.
- Pusat
Keanekaragaman : kawasan geografis yang mempunyai keanekaragaman spesies atau
genetis yang tinggi.
- Pusat
Endemisme: kawasan geografi dengan jumlah spesies endemic yang tinggi pada
tingkat local.